Ketahui 8 Cara Mengatasi Diare pada Orang Dewasa

Ketahui 8 Cara Mengatasi Diare pada Orang Dewasa

Cara mengatasi diare pada orang dewasa berfokus pada mengganti cairan yang hilang, menjaga asupan makanan, cukup istirahat, dan menggunakan obat bebas secara tepat jika diperlukan. Oralit menjadi salah satu pilihan utama karena membantu mengganti cairan sekaligus elektrolit yang keluar saat diare.

Diare umumnya ditandai dengan buang air besar berbentuk cair atau encer sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari, atau lebih sering dibandingkan kebiasaan normal seseorang. Kondisi ini sering kali dapat membaik dalam beberapa hari, tetapi tetap perlu diperhatikan karena kehilangan cairan yang terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi.

Pada orang dewasa, penanganan diare di rumah terutama bertujuan mencegah dehidrasi dan membantu tubuh pulih. Namun, diare yang disertai darah pada feses, demam tinggi, nyeri berat, muntah berulang, atau tanda dehidrasi perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.

Baca Juga: Ciri Diabetes pada Wanita: Tanda yang Sering Diabaikan

Gejala Diare

Gejala utama diare adalah buang air besar dengan feses cair atau encer sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari. Selain itu, seseorang juga dapat mengalami rasa ingin buang air besar secara mendesak, kram atau nyeri perut, mual, hingga kesulitan menahan buang air besar.

Pada beberapa infeksi, gejala dapat disertai demam, menggigil, muntah, pusing, atau feses berdarah. Diare juga dapat menyebabkan dehidrasi yang ditandai dengan rasa haus berlebihan, mulut kering, urine lebih sedikit atau berwarna gelap, tubuh lemas, hingga pusing saat berdiri.

Penyebab Diare

Diare akut paling sering disebabkan oleh infeksi saluran pencernaan, keracunan makanan, atau efek samping obat tertentu. Infeksi dapat berasal dari virus, bakteri, maupun parasit yang masuk melalui makanan, minuman, atau lingkungan yang terkontaminasi.

Selain itu, diare dapat berkaitan dengan intoleransi makanan seperti intoleransi laktosa, konsumsi pemanis tertentu seperti sorbitol, penggunaan antibiotik, atau gangguan saluran pencernaan. Bila diare berlangsung terus-menerus atau sering kambuh, pemeriksaan dokter diperlukan untuk mencari penyebab yang mendasarinya.

Cara Mengatasi Diare pada Orang Dewasa

Sebagian besar diare akut dapat ditangani di rumah selama tidak terdapat tanda bahaya. Fokus utama penanganannya adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang serta menghindari hal-hal yang dapat memperburuk keluhan.

1. Minum Oralit

Oralit atau oral rehydration solution mengandung kombinasi air, glukosa, dan elektrolit yang membantu mengganti cairan serta mineral yang hilang melalui feses. Minumlah sesuai petunjuk pada kemasan, terutama setelah buang air besar cair atau ketika mulai merasa haus dan lemas.

Pada lansia serta orang dengan penyakit ginjal, diabetes, atau kondisi kesehatan tertentu, penggunaan larutan rehidrasi sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter karena kebutuhan cairan dan elektrolit dapat berbeda.

2. Perbanyak Konsumsi Cairan

Selain oralit, minumlah air putih, kuah sup, atau cairan lain yang membantu mengganti cairan tubuh. Minum sedikit tetapi sering dapat terasa lebih nyaman, terutama bila diare juga disertai mual.

Hindari alkohol, minuman berkafein, serta minuman dengan kandungan gula sederhana yang sangat tinggi karena pada sebagian orang dapat memperburuk diare.

3. Konsumsi Makanan dengan Tekstur Lembut

Saat nafsu makan mulai kembali, pilih makanan yang mudah dikonsumsi seperti nasi lembut, bubur, pisang, roti panggang, kentang rebus, telur, atau sup. Tidak perlu mengonsumsi satu jenis makanan saja karena sebagian besar orang dapat secara bertahap kembali ke pola makan normal sesuai toleransi tubuh.

Mulailah dengan porsi kecil dan perhatikan apakah makanan tertentu membuat keluhan semakin berat. Jika tubuh dapat menerimanya dengan baik, variasi makanan dapat ditambah secara bertahap.

4. Hindari Produk Olahan Susu & Tinggi Lemak

Produk susu yang mengandung laktosa dapat memperburuk keluhan pada sebagian orang karena kemampuan mencerna laktosa dapat menurun sementara setelah diare akut. Makanan tinggi lemak seperti gorengan, pizza, atau makanan cepat saji juga dapat membuat gejala lebih berat.

Karena itu, pertimbangkan untuk sementara membatasi susu, es krim, makanan berminyak, serta makanan tinggi lemak sampai kondisi pencernaan membaik. Produk yang masih dapat ditoleransi tidak harus dihindari lebih lama dari yang diperlukan.

5. Konsumsi Probiotik

Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang terdapat pada beberapa makanan fermentasi maupun suplemen. Probiotik mungkin memberikan manfaat pada beberapa jenis diare, tetapi efeknya dapat berbeda berdasarkan jenis mikroorganisme, penyebab diare, dan kondisi masing-masing orang.

Probiotik sebaiknya digunakan sebagai pendamping, bukan pengganti rehidrasi atau penanganan medis. Orang dengan kondisi kesehatan serius atau daya tahan tubuh rendah sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen probiotik.

6. Jaga Kebersihan Tubuh

Diare yang terjadi berulang dapat membuat area sekitar anus lebih mudah lembap dan mengalami iritasi. Bersihkan area tersebut secara lembut setelah buang air besar, kemudian keringkan tanpa menggosok terlalu kuat.

Cuci tangan menggunakan sabun setelah dari toilet dan sebelum menyiapkan atau mengonsumsi makanan. Kebiasaan ini juga penting untuk membantu mengurangi risiko penyebaran infeksi kepada anggota keluarga lain.

7. Istirahat yang Cukup

Tubuh membutuhkan energi untuk pulih, terutama jika diare disebabkan oleh infeksi. Kurangi aktivitas berat dan berikan waktu untuk tidur atau beristirahat hingga kondisi tubuh terasa lebih baik.

Tetap pantau asupan cairan selama beristirahat. Bila tubuh semakin lemah, sulit minum, atau muncul tanda dehidrasi, jangan hanya melanjutkan istirahat di rumah dan segera cari bantuan medis.

8. Minum Obat Anti Diare yang Dijual Bebas

Obat anti-diare yang dijual bebas dapat digunakan sesuai indikasi dan aturan pada kemasan. Di Indonesia, obat bebas ditandai lingkaran hijau dengan garis tepi hitam dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Meski begitu, selalu periksa izin edar, kedaluwarsa, aturan pakai, kontraindikasi, dan peringatannya sebelum digunakan.

Jangan mengandalkan obat anti-diare bila terdapat feses berdarah atau hitam, demam tinggi, nyeri perut berat, muntah berulang, atau tanda dehidrasi. Kondisi tersebut perlu diperiksa dokter karena diare dapat disebabkan masalah yang membutuhkan penanganan berbeda.

Baca Juga: Apa Itu Anyang Anyangan? Kenali Gejala dan Solusinya

Cara mengatasi diare pada orang dewasa terutama dilakukan dengan mengganti cairan dan elektrolit melalui oralit serta minum yang cukup, sambil tetap mengonsumsi makanan sesuai toleransi dan beristirahat. Jika diare berlangsung lebih dari dua hari, terjadi enam kali atau lebih dalam sehari, disertai darah, demam tinggi, nyeri berat, atau tanda dehidrasi, segera konsultasikan dengan dokter.

Pada sebagian orang, diare juga dapat menimbulkan rasa ingin buang air besar secara mendadak hingga sulit menahan feses. Untuk membantu memberikan perlindungan saat kondisi tersebut terjadi, Parenty Adult Pants Heavy Flow hadir dengan 6x daya serap, perlindungan hingga 12 jam, permukaan ekstra lembut, fitur antibakteri, 360° elastis, serta sirkulasi udara untuk membantu menjaga kenyamanan selama digunakan.

Parenty Mengerti bahwa gangguan pencernaan dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa kurang nyaman, terutama ketika kebocoran sulit diprediksi. Perlindungan yang sesuai dapat membantu pengguna menjalani masa pemulihan dengan lebih tenang dan nyaman, sementara penanganan penyebab diare tetap dilakukan secara tepat.

1. Berapa lama diare pada orang dewasa biasanya berlangsung?

Diare akut umumnya berlangsung singkat dan dapat membaik dengan sendirinya. Jika berlangsung lebih dari dua hari pada orang dewasa, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

2. Apakah kopi boleh diminum saat diare?

Sebaiknya dibatasi sementara karena kafein dapat memperburuk diare pada sebagian orang.

3. Apakah diare selalu membutuhkan antibiotik?

Tidak. Banyak kasus diare akut disebabkan virus atau kondisi yang tidak membutuhkan antibiotik, sehingga antibiotik hanya digunakan bila memang diresepkan berdasarkan penyebabnya.

Ditulis oleh: Ombi Lomri
Ditinjau oleh: Ratri Aryanti, S.Tr.Gz

Facebook
Threads
LinkedIn
WhatsApp