Penyebab ISK pada Wanita dan Cara Mencegahnya

Penyebab ISK pada Wanita dan Cara Mencegahnya

Penyebab ISK pada wanita umumnya berkaitan dengan masuknya bakteri ke saluran kemih. Risiko dapat meningkat akibat kebiasaan menahan buang air kecil, kurang minum, atau cara membersihkan area intim yang kurang tepat. Kenali gejalanya agar penanganan dapat dilakukan lebih awal.

Infeksi saluran kemih atau ISK merupakan kondisi yang cukup umum terjadi pada wanita. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman saat buang air kecil dan jika tidak ditangani dengan tepat, infeksi dapat menyebar dari uretra atau kandung kemih ke bagian saluran kemih yang lebih atas, seperti ureter dan ginjal.

Mengetahui penyebab ISK pada wanita dapat membantu Anda mengenali faktor risikonya sejak awal. Dengan menerapkan kebiasaan yang tepat dan menjaga kebersihan, risiko infeksi saluran kemih juga dapat diminimalkan.

Mengapa Wanita Lebih Rentan Infeksi Saluran Kemih?

Wanita memiliki uretra atau saluran tempat keluarnya urine yang lebih pendek dibandingkan pria. Selain itu, letaknya lebih dekat dengan anus sehingga bakteri seperti Escherichia coli (E. coli) dari area tersebut dapat lebih mudah masuk ke saluran kemih dan menyebabkan infeksi.

Bakteri yang masuk kemudian dapat berkembang biak dan menyebabkan infeksi. Meski lebih sering terjadi pada wanita, ISK dapat dialami oleh siapa saja, termasuk wanita yang sudah memasuki usia lanjut.

Baca Juga: Gejala Kencing Batu dan Cara Mengatasinya

Penyebab Infeksi Saluran Kemih pada Wanita

Sebagian besar kasus ISK terjadi ketika bakteri E. coli masuk ke saluran kemih. Namun, beberapa kebiasaan dan perubahan kondisi tubuh juga dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi.

1. Infeksi Bakteri E. Coli

Bakteri Escherichia coli atau E. coli merupakan salah satu penyebab paling umum dari ISK. Bakteri ini biasanya hidup di saluran pencernaan dan dapat berpindah dari area sekitar anus menuju uretra.

Ketika bakteri masuk dan berkembang biak di saluran kemih, infeksi dapat terjadi. Oleh karena itu, menjaga kebersihan area intim menjadi salah satu langkah penting untuk membantu mengurangi risiko perpindahan bakteri.

2. Tidak Membersihkan Organ Intim dengan Benar

Cara membersihkan area intim yang kurang tepat dapat meningkatkan risiko bakteri berpindah ke uretra. Setelah buang air besar atau kecil, wanita disarankan membersihkan area intim dari arah depan ke belakang.

Membersihkan area intim dari arah anus menuju uretra dapat meningkatkan risiko perpindahan bakteri dari tinja ke area sekitar uretra. Pada orang tua, kebersihan area intim perlu diperhatikan untuk membantu mengurangi risiko iritasi dan infeksi saluran kemih. Sebaiknya bersihkan dari arah depan ke belakang, terutama setelah buang air besar. 

Hindari pula penggunaan sabun berpewangi, antiseptik, atau produk pembersih dengan bahan yang dapat mengiritasi kulit sensitif. Gunakan air bersih dan pembersih yang lembut bila diperlukan, lalu keringkan area tersebut secara perlahan tanpa menggosok terlalu kuat.

3. Menahan Buang Air Kecil

Kebiasaan menahan buang air kecil terlalu lama dapat membuat urine berada lebih lama di kandung kemih. Kondisi ini dapat meningkatkan peluang bakteri, terutama Escherichia coli (E. coli) yang berasal dari saluran pencernaan, masuk dan berkembang di saluran kemih. 

Usahakan untuk buang air kecil saat tubuh sudah memberikan dorongan. Lansia yang mengalami kesulitan bergerak juga dapat membutuhkan dukungan agar tetap dapat mengakses toilet dengan aman.

4. Kurang Minum Air Putih

Kurang minum dapat membuat produksi urine berkurang sehingga frekuensi buang air kecil menjadi lebih jarang. Kondisi ini dapat mengurangi proses alami tubuh dalam mengeluarkan urine dan membantu membersihkan bakteri dari saluran kemih.

Pastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi, misalnya dengan minum sekitar 8 gelas air putih atau 2 liter per hari. Namun, kebutuhan cairan setiap orang dapat berbeda, sehingga wanita dengan kondisi medis tertentu yang memiliki pembatasan cairan sebaiknya mengikuti anjuran dokter mengenai jumlah cairan yang dapat dikonsumsi.

5.  Menopause

Setelah menopause, penurunan kadar estrogen dapat menyebabkan perubahan pada jaringan dan lingkungan di area vagina serta saluran kemih. Perubahan ini dapat membuat sebagian wanita lebih rentan mengalami ISK.

Wanita yang mengalami ISK berulang setelah menopause sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Dokter dapat membantu mengevaluasi faktor risiko dan menentukan langkah pencegahan yang sesuai.

Jenis Infeksi Saluran Kemih yang Umum Terjadi

Infeksi saluran kemih dapat terjadi pada bagian saluran yang berbeda. Lokasi infeksi dapat memengaruhi gejala yang muncul serta tingkat keparahan kondisi yang dialami. Berikut beberapa jenis ISK yang umum terjadi.

1. Infeksi Saluran Kemih Atas (Pielonefritis)

Pielonefritis merupakan infeksi yang terjadi pada ginjal. Kondisi ini umumnya lebih serius dibandingkan infeksi yang hanya terjadi pada bagian bawah saluran kemih.

Gejalanya dapat mencakup demam, nyeri pada punggung atau sisi tubuh, mual, dan muntah. Kondisi ini memerlukan pemeriksaan medis karena dapat menyebabkan komplikasi jika tidak ditangani dengan tepat.

2. Infeksi Saluran Kemih Bawah (Sistitis)

Sistitis merupakan peradangan pada kandung kemih yang sering kali disebabkan oleh infeksi bakteri. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa nyeri atau perih saat buang air kecil.

Penderita juga dapat merasa lebih sering ingin buang air kecil. Beberapa orang mungkin hanya mengeluarkan sedikit urine meskipun dorongan untuk buang air kecil terasa kuat.

3. Infeksi Saluran Kemih Uretra (Uretritis)

Uretritis adalah peradangan yang terjadi pada uretra. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa nyeri atau terbakar ketika buang air kecil.

Penyebab uretritis dapat beragam dan tidak selalu sama dengan penyebab ISK pada kandung kemih. Karena itu, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat.

Gejala Infeksi Saluran Kemih pada Wanita

Gejala ISK pada wanita dapat berbeda-beda, tergantung pada lokasi dan tingkat keparahan infeksi. Namun, beberapa keluhan berikut cukup sering terjadi dan perlu diperhatikan.

Mengenali gejala sejak awal dapat membantu penderita mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

1. Sering Buang Air Kecil

Penderita ISK dapat merasa ingin buang air kecil berkali-kali dalam sehari, bahkan setiap beberapa menit atau jam. Dorongan tersebut dapat tetap muncul meskipun jumlah urine yang keluar hanya sedikit..

Pada lansia, perubahan kebiasaan buang air kecil juga perlu diperhatikan. Keluhan ini tidak selalu disebabkan oleh ISK sehingga pemeriksaan dapat membantu mengetahui penyebabnya.

2. Nyeri saat Buang Air Kecil

Rasa nyeri, perih, atau sensasi terbakar saat buang air kecil merupakan salah satu gejala yang sering dikaitkan dengan ISK. Keluhan ini dapat muncul ketika terjadi peradangan pada saluran kemih.

Jika rasa nyeri tidak membaik atau disertai gejala lain, seperti demam, nyeri di bagian pinggang atau punggung, urine berdarah, mual, atau muntah, sebaiknya segera periksakan kondisi orang tua ke dokter. Gejala tersebut dapat menandakan infeksi yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

3. Perubahan Warna Urine

Urine dapat terlihat lebih keruh atau mengalami perubahan warna ketika terjadi infeksi. Namun, perubahan warna urine juga dapat dipengaruhi oleh asupan makanan, obat-obatan, atau kondisi kesehatan lainnya.

Karena itu, perubahan warna urine sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya tanda ISK. Perhatikan pula apakah keluhan tersebut disertai nyeri, demam, atau perubahan kebiasaan buang air kecil.

4. Urine Berbau Menyengat

Perubahan bau urine dapat terjadi karena berbagai faktor, termasuk kurang minum. Pada beberapa kasus, ISK juga dapat menyebabkan urine memiliki bau yang lebih menyengat dari biasanya.

Bau urine saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami ISK. Jika disertai gejala lain, seperti nyeri saat buang air kecil atau demam, segera pertimbangkan pemeriksaan medis.

5. Nyeri di Perut Bagian Bawah

ISK yang melibatkan kandung kemih dapat menyebabkan rasa tidak nyaman atau nyeri di perut bagian bawah. Keluhan ini dapat disertai rasa penuh atau tekanan pada area panggul.

Nyeri yang semakin berat atau disertai demam, menggigil, dan nyeri punggung perlu mendapatkan perhatian medis. Gejala tersebut dapat menandakan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Cara Mengobati dan Mencegah Infeksi Saluran Kemih pada Wanita

Penanganan infeksi saluran kemih (ISK) perlu disesuaikan dengan penyebab, lokasi infeksi, dan kondisi kesehatan penderita. Selain pengobatan medis, beberapa kebiasaan sederhana juga dapat membantu meredakan keluhan dan mengurangi risiko ISK berulang.

  • Minum air putih yang cukup. Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 2 liter cairan atau 8 gelas per hari, tetapi jumlahnya perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh dan anjuran dokter.
  • Jangan menahan buang air kecil. Segera buang air kecil ketika muncul dorongan dan hindari menahannya terlalu lama agar urine tidak terlalu lama berada di kandung kemih.
  • Kompres hangat. Gunakan kompres bersuhu sekitar 40–45°C pada perut bagian bawah untuk membantu meredakan rasa tidak nyaman, dengan melapisinya menggunakan kain agar tidak langsung mengenai kulit.
  • Minum obat sesuai resep dokter. Jika ISK disebabkan bakteri, dokter dapat meresepkan antibiotik yang harus dikonsumsi sesuai dosis dan durasi yang telah ditentukan.
  • Bersihkan area intim dengan benar. Bersihkan area genital dari arah depan ke belakang, terutama setelah buang air besar, untuk mengurangi risiko bakteri seperti Escherichia coli berpindah ke uretra.
  • Buang air kecil setelah berhubungan seksual. Kebiasaan ini dapat membantu mengeluarkan bakteri yang mungkin masuk ke uretra selama aktivitas seksual.
  • Gunakan pakaian dalam yang bersih dan kering. Pilih pakaian dalam yang tidak terlalu ketat dan segera ganti jika terasa basah atau lembap agar area genital tetap nyaman.
  • Hindari produk yang mengiritasi area genital. Hindari penggunaan vaginal douche, pewangi kewanitaan, atau sabun yang dapat menyebabkan iritasi pada area genital.
  • Periksa ke dokter jika gejala tidak membaik. Segera lakukan pemeriksaan jika keluhan menetap atau disertai demam, menggigil, nyeri pinggang, mual, atau muntah yang dapat menandakan infeksi telah menyebar ke ginjal.

Jika gejala ISK muncul, jangan hanya mengandalkan perawatan di rumah karena infeksi bakteri dapat membutuhkan antibiotik. Pemeriksaan dan pengobatan yang tepat juga penting untuk mencegah infeksi berkembang atau berulang.

Baca Juga: Penyebab Nyeri Saat Buang Air Kecil dan Pencegahannya

Penyebab infeksi saluran kemih pada wanita umumnya berkaitan dengan masuknya bakteri ke saluran kemih, yang risikonya dapat meningkat akibat kebiasaan menahan buang air kecil, kurang minum, atau cara membersihkan area intim yang kurang tepat. Mengenali gejala dan menerapkan kebiasaan yang tepat dapat membantu menurunkan risiko ISK serta mencegah infeksi berkembang menjadi lebih serius.

Selain menjaga kebersihan area intim, penggunaan popok dewasa yang nyaman juga penting bagi wanita dengan inkontinensia. Parenty Adult Pants Soft memiliki permukaan Luxurious Soft yang ekstra lembut, teknologi 3D Surface untuk membantu mencegah iritasi dan menjaga permukaan tetap cepat kering, serta elastis 360° yang pas di tubuh dan membantu mencegah kebocoran. Popok celana dewasa ini dirancang untuk pengguna dengan mobilitas tinggi dan membantu memberikan perlindungan ekstra selama beraktivitas.

1. Apakah ISK pada wanita bisa sembuh sendiri?

Beberapa keluhan saluran kemih memerlukan evaluasi medis untuk mengetahui penyebabnya. Jika ISK disebabkan oleh bakteri dan memerlukan antibiotik, pengobatan sebaiknya mengikuti resep dokter.

2. Apakah kurang minum air putih dapat menyebabkan ISK?

Kurang minum dapat mengurangi frekuensi buang air kecil dan menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko masalah pada saluran kemih. Namun, ISK umumnya terjadi ketika mikroorganisme masuk dan berkembang di saluran kemih.

3. Kapan harus ke dokter saat mengalami gejala ISK?

Segera cari bantuan medis jika gejala disertai demam, menggigil, nyeri pada punggung atau sisi tubuh, mual, muntah, atau kondisi semakin memburuk. Wanita hamil dan lansia juga sebaiknya lebih berhati-hati terhadap keluhan saluran kemih.

Ditulis oleh: Ombi Lomri
Ditinjau oleh: Ratri Aryanti, S.Tr.Gz

Facebook
Threads
LinkedIn
WhatsApp