Pembesaran prostat pada lansia dapat menyebabkan sulit memulai BAK, aliran urine melemah, kandung kemih terasa belum kosong, hingga lebih sering buang air kecil pada malam hari. Kondisi ini dapat ditangani melalui pemantauan, perubahan kebiasaan, obat, hingga prosedur medis sesuai tingkat keparahannya.
Pembesaran prostat merupakan masalah yang cukup umum pada pria seiring bertambahnya usia. Kondisi ini dapat mengganggu aliran urine karena prostat berada tepat di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra, yaitu saluran yang membawa urine keluar dari tubuh.
Keluhannya dapat berkembang perlahan sehingga terkadang dianggap sebagai bagian biasa dari proses menua. Padahal, sering buang air kecil, sulit memulai BAK, atau aliran urine yang semakin lemah tetap perlu diperhatikan agar penyebab dan penanganannya dapat diketahui dengan tepat.
Baca Juga: Penyebab ISK pada Wanita dan Cara Mencegahnya
Apa Itu Pembesaran Prostat pada Lansia?
Pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH) adalah kondisi ketika kelenjar prostat membesar tanpa disebabkan oleh kanker. Kondisi ini menjadi semakin umum seiring bertambahnya usia dan merupakan masalah prostat yang paling sering terjadi pada pria berusia di atas 50 tahun.
Prostat berada di bawah kandung kemih dan mengelilingi bagian awal uretra. Ketika ukurannya membesar, prostat dapat mempersempit saluran tersebut sehingga kandung kemih harus bekerja lebih keras untuk mengeluarkan urine.
Penyebab Pembesaran Prostat pada Lansia
Penyebab pasti BPH hingga saat ini belum diketahui. Namun, proses penuaan dan perubahan hormonal diduga berperan, sementara beberapa kondisi dan kebiasaan diketahui berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi.
1. Pertambahan Usia
Risiko pembesaran prostat meningkat seiring bertambahnya usia dan gejalanya jarang muncul pada pria di bawah 40 tahun. NIDDK memperkirakan BPH dialami sekitar 29–33% pria berusia 65 tahun ke atas.
2. Perubahan Hormon
Perubahan kadar hormon pria selama proses penuaan diduga ikut berperan dalam pertumbuhan jaringan prostat. Namun, mekanisme pastinya masih terus dipelajari sehingga perubahan hormon tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab BPH.
3. Riwayat Keluarga
Pria yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat BPH diketahui memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Informasi mengenai riwayat kesehatan keluarga karena itu dapat menjadi salah satu bagian yang ditanyakan dokter saat melakukan pemeriksaan.
4. Obesitas dan Kurang Aktif Bergerak
Obesitas dan kurang melakukan aktivitas fisik termasuk faktor yang dikaitkan dengan risiko BPH lebih tinggi. Menjaga berat badan sehat dan tetap bergerak dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat secara umum, meskipun tidak menjamin BPH dapat dicegah.
5. Diabetes dan Penyakit Jantung
Diabetes tipe 2 serta penyakit jantung dan pembuluh darah juga termasuk kondisi yang dikaitkan dengan peningkatan risiko BPH. Hubungan ini tidak berarti kedua penyakit tersebut secara langsung menyebabkan prostat membesar, tetapi keberadaannya dapat menjadi salah satu faktor risiko yang perlu diperhatikan.
Gejala Pembesaran Prostat pada Lansia
Gejala BPH terutama berkaitan dengan gangguan aliran dan penyimpanan urine. Tingkat keluhan juga tidak selalu sebanding dengan ukuran prostat karena prostat yang hanya sedikit membesar pun dapat menyebabkan gejala yang cukup mengganggu pada sebagian orang.
1. Sulit Memulai Buang Air Kecil
Lansia dapat merasa ingin buang air kecil tetapi membutuhkan waktu sebelum urine mulai keluar. Kondisi ini terjadi karena aliran urine harus melewati uretra yang semakin menyempit akibat tekanan dari prostat.
2. Aliran Urine Lemah atau Terputus-putus
Aliran urine dapat terasa lebih kecil dari biasanya atau berhenti dan kembali mengalir selama proses BAK. Gejala ini termasuk salah satu keluhan saluran kemih yang umum pada BPH.
3. Harus Mengejan saat Buang Air Kecil
Sebagian orang perlu mengejan agar urine dapat keluar karena hambatan pada uretra membuat kandung kemih bekerja lebih keras. Kebiasaan mengejan berulang ketika BAK sebaiknya tidak dianggap normal dan perlu dibicarakan dengan dokter.
4. Kandung Kemih Terasa Belum Kosong
Setelah selesai buang air kecil, penderita dapat tetap merasa masih ada urine yang tertinggal. Hal ini dapat terjadi ketika kandung kemih tidak mampu mengosongkan isinya sepenuhnya akibat hambatan aliran urine.
5. Urine Masih Menetes Setelah Selesai Buang Air Kecil
Urine dapat tetap menetes atau dribbling setelah seseorang merasa sudah selesai BAK. Selain membuat tidak nyaman, tetesan urine juga dapat membasahi pakaian dan kulit apabila terjadi berulang.
Mengapa Pembesaran Prostat Membuat Lansia Sering BAK?
Sering buang air kecil merupakan salah satu keluhan BPH yang cukup umum, termasuk kebutuhan untuk bangun beberapa kali pada malam hari atau nokturia. Mekanismenya berkaitan dengan hambatan aliran urine dan perubahan fungsi kandung kemih.
1. Prostat yang Membesar Menekan Saluran Urine
Prostat mengelilingi uretra tepat di bagian bawah kandung kemih. Ketika prostat membesar, uretra dapat tertekan dan menyempit sehingga urine menjadi lebih sulit keluar.
2. Kandung Kemih Tidak Dapat Kosong Sepenuhnya
Karena harus melawan hambatan pada uretra, otot kandung kemih bekerja lebih keras dan lama-kelamaan dapat melemah. Akibatnya, sebagian urine dapat tertinggal sehingga kandung kemih terasa lebih cepat penuh kembali.
3. Keinginan BAK Lebih Sering Muncul, Terutama pada Malam Hari
Urine yang tersisa serta perubahan fungsi kandung kemih dapat menimbulkan rasa ingin berkemih lebih sering atau mendesak. Pada malam hari, kondisi ini dapat menyebabkan nokturia sehingga lansia harus beberapa kali bangun dari tidur untuk menuju toilet.
Cara Mengatasi Pembesaran Prostat pada Lansia
Penanganan BPH bergantung pada tingkat keparahan gejala, ukuran prostat, kondisi kesehatan secara keseluruhan, dan seberapa besar keluhan mengganggu aktivitas. Pilihannya dapat berkisar dari pemantauan hingga prosedur medis.
1. Pemantauan Kondisi secara Berkala
Jika gejalanya masih ringan dan belum mengganggu kualitas hidup, dokter dapat merekomendasikan watchful waiting atau pemantauan aktif. Pemeriksaan rutin tetap diperlukan untuk mengetahui apakah gejala berubah atau muncul komplikasi.
2. Perubahan Kebiasaan Sehari-hari
Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain mengurangi minum menjelang tidur atau sebelum bepergian, membatasi alkohol dan kafein, tetap aktif secara fisik, serta tidak menahan BAK terlalu lama. Usahakan pula mengosongkan kandung kemih dengan baik setiap kali buang air kecil.
3. Penggunaan Obat Sesuai Anjuran Dokter
Dokter dapat meresepkan obat seperti alpha blocker untuk merelaksasi otot di sekitar prostat dan leher kandung kemih atau 5-alpha reductase inhibitor untuk membantu menghentikan pertumbuhan maupun mengecilkan prostat. Jenis obat dipilih berdasarkan kondisi masing-masing pasien dan tidak sebaiknya digunakan tanpa evaluasi dokter.
4. Prosedur Medis atau Operasi
Jika obat tidak cukup membantu, gejala berat, atau sudah muncul komplikasi, prosedur minimal invasif maupun operasi dapat dipertimbangkan. Tujuannya antara lain melebarkan uretra atau mengurangi jaringan prostat yang menghambat aliran urine.
Komplikasi Pembesaran Prostat yang Perlu Diwaspadai
BPH yang mengganggu pengosongan kandung kemih dapat menimbulkan komplikasi, terutama jika urine terus-menerus tertahan. Pemeriksaan dokter penting untuk membantu mencegah gangguan berkembang lebih jauh.
1. Retensi Urine
Retensi urine terjadi ketika kandung kemih tidak dapat dikosongkan dengan baik atau seseorang sama sekali tidak bisa buang air kecil. Ketidakmampuan mengeluarkan urine merupakan kondisi yang membutuhkan pertolongan medis segera.
2. Infeksi Saluran Kemih
Urine yang tertinggal di kandung kemih dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih. Gejalanya dapat berupa rasa nyeri atau terbakar saat BAK, sering ingin berkemih, urine keruh, hingga demam.
3. Batu Kandung Kemih
Urine yang tidak dikeluarkan secara tuntas dapat berkontribusi terhadap terbentuknya batu di dalam kandung kemih. Batu tersebut dapat semakin mengganggu aliran urine, menyebabkan iritasi, atau meningkatkan risiko infeksi.
4. Gangguan pada Kandung Kemih atau Ginjal
Kandung kemih yang terus bekerja keras dapat mengalami perubahan fungsi dan semakin sulit mengosongkan urine. Pada kasus tertentu, BPH juga dapat berkaitan dengan gangguan ginjal sehingga keluhan berkemih yang berat tidak boleh dibiarkan.
Kapan Lansia dengan Pembesaran Prostat Harus Dibawa ke Dokter?
Keluhan seperti aliran urine melemah, sering BAK, nokturia, rasa tidak tuntas, atau urine yang terus menetes sebaiknya dikonsultasikan karena gejala tersebut juga dapat terjadi pada masalah lain seperti infeksi saluran kemih, prostatitis, gangguan kandung kemih, atau kanker prostat. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebabnya sebelum menentukan penanganan.
Segera cari bantuan medis jika lansia sama sekali tidak dapat buang air kecil, mengalami BAK yang nyeri dan sering disertai demam atau menggigil, terdapat darah dalam urine, atau muncul nyeri hebat pada perut bagian bawah maupun saluran kemih. Kondisi tersebut dapat menunjukkan komplikasi yang membutuhkan penanganan segera.
Baca Juga: Apa Itu Anyang Anyangan? Kenali Gejala dan Solusinya
Bantu Jaga Kenyamanan Lansia bersama Parenty Adult Pants Soft
Pembesaran prostat dapat membuat lansia lebih sering ke toilet, mengalami rasa ingin BAK mendesak, hingga urine menetes setelah berkemih. Kondisi tersebut perlu ditangani secara medis, tetapi perlindungan tambahan juga dapat membantu menjaga kenyamanan apabila terdapat kebocoran urine saat menjalani aktivitas sehari-hari.
Untuk lansia dengan inkontinensia ringan dan mobilitas tinggi, Parenty Adult Pants Soft dirancang seperti celana dalam dengan bentuk tipis dan pas di tubuh. Produk ini dilengkapi Luxurious Soft dengan bahan ekstra lembut, 3D Surface untuk membantu mendistribusikan cairan agar cepat kering merata, 360° Elastis untuk membantu mencegah kebocoran, serta 4x daya serap.
Parenty Mengerti bahwa keluhan berkemih tidak harus membuat orang tua merasa harus terus membatasi aktivitas atau kehilangan kenyamanan dalam menjalani keseharian. Dengan pengobatan sesuai anjuran dokter dan perlindungan yang tepat, lansia dapat tetap beraktivitas dengan lebih tenang dan percaya diri.
1. Apakah pembesaran prostat sama dengan kanker prostat?
Tidak. BPH merupakan pembesaran prostat jinak dan bukan kanker, meskipun keduanya dapat menimbulkan beberapa gejala berkemih yang mirip.
2. Apakah ukuran prostat menentukan beratnya gejala?
Tidak selalu. Prostat yang besar dapat menimbulkan sedikit keluhan, sedangkan pembesaran yang lebih kecil terkadang justru cukup mengganggu aliran urine.
3. Apakah pembesaran prostat bisa sembuh sendiri?
Gejalanya dapat tetap stabil atau membaik pada sebagian orang, tetapi BPH perlu dipantau. Penanganannya disesuaikan dengan tingkat keluhan dan dampaknya terhadap kualitas hidup.